Hilang selera

Membaca artikel di vivanews edisi 30 desember 2010 tentang seorang model kurus Isabel Caro yang berjuang melawan penyakit anoreksia, saya jadi berpikir banyak. Bagaimana mungkin ya kebanyakan para gadis-gadis itu berusaha agar  tubuhnya sekurus lidi setipis papan. Para penderita anoreksia nervosa umumnya memiliki kelainan psikis dimana mereka kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Mereka sama sekali tak ingin terlihat gemuk. Saya tak akan membicarakan para gadis tadi, tapi tentang saya yang ternyata setali tiga uang dengan mereka. Saya kurus kering..

Seperti diketahui makan merupakan kebutuhan dasar tiap mahluk hidup, yang biasa dirangkum dalam satu kebutuhan sandang pangan papan. Saya bukannya tak mengetahui masalah kesehatan yang berkaitan dengan makan ataupun slogan.. “jangan hidup untuk makan, tapi makanlah untuk hidup”. Hanya masalahnya, pergi kemana selera makan itu?

Ada yang bilang, perawakan seseorang biasanya berdasarkan garis keturunan, pola makan, ekonomi, keseharian, habitat, dan lain-lain. Rasanya semua faktor tadi ikut andil dalam pembentukan badan saya. Kedua orangtua berperawakan tinggi kurus, hanya ibu  saya yang berubah menjadi gemuk setelah memasuki usia 45-an itupun karena sakit. Pola makan dan keseharian diturunkan dari faktor lingkungan keluarga yang bukan tipe rewog untuk urusan makanan. Segi ekonomi yang pas-pasan terutama di usia 14-21 tahun pada masa kos jaman sma sampai kuliah pun turut menjadikan saya seperti sekarang.. (baca: harus irit uang jajan seminggu)

Saya tak mencurigai diri saya anoreksia, karena saya tak ingin menjadi kurus kering meski kadang suka panik jika saya merasa berat badan ideal saya terlewati.. halaah, sama aja ya.. Dulu semasa masuk sma, dengan tinggi 164cm berat saya hanya 39kg. Setelah lulus naik jadi 41kg, semasa kerja sampai akan menikah meningkat sedikit menjadi 43kg. Sekarang 10 tahun kemudian berat saya ada di posisi 52kg. Sebenarnya 52 adalah berat badan cukup ideal, tapi sayang saya terlambat seharusnya saya raih itu bertahun-tahun yang lalu. Saat ini ketika usia mulai beranjak tua, defisiensi makanan seperti terakumulasi menimbulkan berbagai gejala penyakit terutama yang berkaitan dengan pencernaan. Saya jadi gampang ripuh dan rapuh..

Saya bukannya tak lapar, tapi kadang saya tak ingin makan. Saya hilang selera. Berbagai cara sudah saya lakukan demi mengembalikan selera makan saya yang hilang, mulai dari vitamin, kapsul minyak ikan, jamu tradisional, herbal, akupuntur, ini-itu.. hasilnya? Tidak terlihat. Kadang saya sengaja makan bareng dengan orang-orang yang hobi makan banyak, tapi kok tidak tergoda juga.. Atau pergi ke tempat makanan favorit saya, makanan jepang.. yang ini bisa merogoh kocek dalam-dalam, dan akibatnya membahayakan kantong bila terlalu sering :D.. Jujur, kadang saya suka merasa sedikit frustasi dengan pola makan saya yang sangat tidak karuan. Hanya dukungan dari orang-orang terdekatlah yang membuat saya menyingkirkan ego tak jelas dan mau mengorbankan rasa di mulut demi kesehatan.. Saya harus menyemangati diri.. saya makan untuk hidup dan sehat, semangat!

Iklan

2 thoughts on “Hilang selera

    • iya, harus lebih banyak bersyukur tentunya..
      pengalaman pribadi ini bisa membuat saya lebih mengerti tentang perjuangan melawan kelainan pola makan yg banyak melanda perempuan2 muda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s