Nasibmu… pahlawan devisa?

Mereka datang ke negeri antah berantah dengan segudang harapan, niat bekerja keras demi melanjutkan hidup, mencari kemakmuran yang tidak didapat dari negeri yang kaya raya ini. Hanya garisan nasib yang mengiring kalian ke arah mana kaki akan dilangkahkan.  Sukses kembali dengan membawa segepok harta ataukah hanya berakhir dengan papan nama, berita duka cita di berita televisi. Tidak, saya tidak akan membahas kehidupan mereka. Bukan kapasitas saya, tapi bolehlah sepenggal dua pengalaman saya bersama mereka bisa sedikit menggambarkan keadaan mereka.. tenaga kerja indonesia..

Malam oktober 2002, pertama kali  menjejakkan kaki di airport Soetta guna berangkat ke Osaka. Saya masih sedikit  “melenggang nyaman” ketika  saya menyodorkan official passport. Tak harus berdesakan dengan serombongan .. maaf.. perempuan berwajah ndeso (padahal saya juga ga jauh beda sama mereka), berpakaian ala kadarnya, tak tahu cara mengisi kartu imigrasi. bingung sambil membawa koper kesana kemari  mencari gate yang tepat ke arah pesawat yang akan menghantarkan mereka ke negeri orang. Hm, maaf kalau masih sempat terbesit sifat arogansi manusiawi, tapi lama-kelamaan muncul rasa kasihan pada mereka.. kebingungan berjama’ah, tak mengerti apa yang harus diperbuat. Saya khawatir, ini masih di Soetta, masih bisa berbahasa Indonesia. Bagaimana mereka bila sampai tempat tujuan dengan keadaan yang serba asing?  Saya tak sempat berlama-lama memperhatikan mereka. Gate kami terpisah.. case dismissed..

Sesampai di negeri Sakura, bertemu orang dari negeri yang sama terasa sangat membahagiakan. Kebanyakan berasal dari berbagai institusi pemerintahan maupun mahasiswa, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja rasa tak simpatik saya muncul ketika bertemu para wanita yang bekerja di tempat hiburan di kawasan Osaka dan Kobe, pun Tokyo. Saya tak melihat adanya senyum tulus khas Indonesia di wajah mereka saat kami bertemu, semua berganti palsu dengan tatanan rambut serta make up khas jepang. Tak menyenangkan, mungkin sama menyebalkannya bagi mereka karena bertemu dengan saya yang notabene ‘ga keren look’ , tidak dandan, kurus kering, nyasar sampai jepang. Sungguh bukan pengalaman yang harus dikenang. Hanya saja, saya pernah bahagia sekali bisa bercakap-cakap dalam bahasa Sunda di dalam kereta dari stasiun Tokyo dengan pemuda tetangga kampung, dia bekerja di pabrik . Keren sekali rasanya mendengar Sundanese goes international, hehe….

Pun di Korea, tempat para TKI dikirim untuk bekerja di industri maupun pabrikan ternama disana. Saya tak sempat bertemu banyak, hanya saja ketika kami diantar kolega Seoul mencari gagdet. Saya bertemu pekerja Indonesia dan sempat bercakap-cakap, tak terlihat menderita karena ia memberi barang lumayan mahal, syukurlah…

Di Saudi, saya hanya bertemu dengan para pekerja yang bekerja di toko. Antusiasme warga Indonesia yang hobi berbelanja bahkan membuat orang Arab mahir berbahasa Indonesia. Saya tak menemui para pembantu rumah tangga yang selalu menjadi head line berita nasional dengan berita penyiksaan dan penderitaannya. Bukan timing yang tepat karena kami hanya bertemu dengan para pekerja yang menjadi muthawwif selama umrah dan musim haji, otomatis kehidupan mereka sangat berlimpah.

Malaysia adalah tempat saya cukup sakit hati karena pihak imigrasinya sangat merendahkan orang Indonesia.  Semua dianggap pekerja yang harus diinterogasi dengan wajah ketus, aiih.. apalagi dengan dandanan ala saya yang ala kadarnya.. 😦  Saat menunggu kepulangan ke tanah air, saya dikejutkan dengan teguran perempuan muda yang menyapa saya.. “kakak kerja kilangkah?”. Sesaat saya ingin tersinggung, tapi ketika saya pandangi dia.. jelaslah dia dalam masalah besar. Dia diusir pulang, bingung.. mungkin tas yang dia bawa hanya satu koper itu saja. Ia hanya memakai kaos sederhana, tidak pakai jaket, menyimpan ringgitnya di balik kaos kaki..  Saya menjawab singkat, “tidak, saya sedang berlibur”. Sayangnya saya tak suka berbicara dengan orang asing, jadi saya tak berminat untuk melanjutkan pembicaraan banyak dengannya. Saya asyik dengan pikiran sendiri, namun terbersit keinginan untuk menemaninya saat tiba di Soetta, karena ia harus melanjutkan perjalanan ke Cilacap. Saya khawatir dia akan jadi korban calo terminal, tapi sayang kami tak sempat saling bertemu setelah itu..

Kembali ke kejadian memilukan yang dialami sebagian TKI di minggu-minggu ini. Saya menjadi tidak kaget saat membaca tulisan di Kompas tentang bagaimana para anggota DPR yang terhormat itu mengabaikan para TKI yang terlantar di Dubai. Mungkin tak ada hubungannya dengan pengalaman saya bersinggungan dengan mereka, tapi rasanya memang penderitaan mereka seperti tak ada akhirnya….

re-post note FB 21 Nov 2010

Iklan

One thought on “Nasibmu… pahlawan devisa?

  1. Ping-balik: Berkaryalah.. dengan atau tanpa gelar sarjana « written minds

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s