Rangsit, I’m back..

2009.. saya ke Thailand lagi… Yup, meski mengaku ga terlalu cinta, tapi Thailand memang menyuguhkan nuansa berbeda. Banyak sekali yang ingin saya jelajahi di Thailand, terutama di wilayah utara dan selatan, mungkin lain waktu. Kali ini karena hasutan ibu boss yang baru saja memegang paspor hijau dan berniat menghiasinya dengan cap-cap imigrasi, hihi… Biasanya memang saya yang hobi browsing internet mencari tiket murah, lalu mulailah kami berkolusi hendak kabur kemana. Satu-satunya tujuan yang paling menyenangkan adalah Bangkok, karena kolega kami masih betah berkutat di Chulaborn untuk melanjutkan eksperimennya bersama mencit dan udang. Lumayan, kami punya guide gratisan. Akhirnya kami bertiga menghabiskan waktu selama 5 hari 4 malam dan menumpang tinggal “hotel mahasiswa” CRI di Rangsit.

Sebenarnya, saya juga bingung.. destinasi kali ini kami akan pergi kemana. Inginnya sih berkelana kesana-kemari tapi mungkin karena tak terlalu punya nyali dan ga mau susah-susah banget. Untuk dalam kota, rasanya saya sudah berputar-putar. Tapi demi dua orang yang masih awam tadi (whoaa.. gaya!) akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Grand Place, Wat Arun, Wat Pho, menyeberangi sungai Chao Praya dan sekitarnya dalam kondisi yang panas terik..  Awalnya saya ingin pergi ke pantai, salah satunya Hua Hin dan sekitarnya atau ke kota tua Ayutthaya. Tapi teman saya tak bisa mengantar karena masih harus bekerja di labnya. Maka setelah kami turut dipekerjakan untuk mempreparasi udang-udang yang akan dipakai untuk eksperimen, diputuskan untuk pergi ke floating market di Amphawa. Berhubung teman saya sudah jago berbahasa Thai, maka kami naik transportasi umum untuk pergi kesana-kemari (sekaligus pengiritan). Floating market tour ini sebenarnya hanya menyusuri sungai berwarna coklat yang dikemas apik sambil mengunjungi temple ke temple di pinggirannya. Di sekitar jalan masuk terdapat area yang berisi para penjual makanan-minuman, souvenir, dll sebagai tempat para turis beristirahat.  O, ya di Amphawa selain berburu ma muang (mangga muda renyah yang rasanya manis) di pasar kaget di pinggir rel kereta, saya mendapatkan bibit buah Gac (Momordica cochinchinensis) –yang konon banyak khasiatnya-  untuk  saya tanam di  pekarangan rumah, lumayan..buat tambah-tambah koleksi.  Info tentang gac fruit bisa diperoleh di http://www.gacfruits.com/

Setelah mendapatkan pengalaman melihat-lihat di area wisata, kami mewajibkan diri untuk kembali ke pasar Chatuchak, Phratu Nam, dan Bo Bae untuk berburu baju-baju, souvenir,  sambil menikmati cha yen (thai tea) dan jajanan pasar seperti squid egg  bakar yang diberi bumbu saos thai, pisang goreng, tahu goreng, maupun sejenis kue ape ala Thai. Saat itu kami tak sempat pergi ke Chinatown dan MBK untuk memanjakan mata. Sewaktu di stasiun Hua Lamphong, teman saya bilang ini adalah stasiun kereta untuk destinasi ke negara-negara lain. Sayangnya tak cukup waktu kami untuk menikmati fasilitas kereta di Thailand. Esok harinya, kami bertiga tanpa sang guide lagi-lagi pergi mengubek-ngubek Phratu Nam untuk berbelanja .. dasar ibu-ibu! Nah, terlihatlah bahwa kami itu sebenarnya bukan adventurer sejati yang hobi berkelana 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s