Waktunya Kembali

Setelah melewatkan round trip, tak terasa dalam beberapa hari lagi kami harus pulang. Antara senang dan sedih, senang karena akhirnya bisa kembali bertemu keluaraga dan kangen Indonesia. Sedih, karena pertemanan kami sudah merasa dekat satu sama lain dan juga mungkin karena jatah allowance kami sudah berakhir.. hehe. Hanya saja “penderitaan” kami belum berakhir pada didera kelelahan paska trip, karena masih ditugasi untuk membuat presentasi sebagai output hasil training dalam sesi Final Report. Tapi syukurlah, karena kami terbiasa diberi tugas hal itu tak terlalu menjadi kendala.

Setelah sesi presentasi, kami masih punya waktu untuk menghabiskan yen dan waktu di  malam-malam terakhir sebelum kembali. Kebetulan saat itu menjelang Natal, sehingga malam  di Kobe terasa cantik dengan adanya Luminaire.  Lokasinya di sekitar Chinatown.  Seperti  biasa, wong ndeso ini mendecak  terkagum-kagum melihat kecantikan Kobe di malam hari.  Cuaca sudah berangsur lebih dingin,  namun  tidak ada salju yang berguguran.

Kehebohan pulang kampung juga diisi dengan bagaimana cara packing yang efektif guna menghindari kelebihan bagasi. Tak terbayang, sudah banyak sekali pernak-pernik oleh-oleh khas Jepang yang telah saya beli, tapi saya kesulitan sendiri untuk membuatnya menjadi suatu kesatuan yg utuh. Tas jinjing Samsonite saya sampai menggelembung tak keruan penampakannya, mungkin sudah overload. Akhirnya materi lecture, dan buku-buku dikirimkan via shipping agent. Ada sebagian partisipan yang membuangnya, tapi buat saya sayang rasanya.. jauh-jauh belajar, kok akhirnya dibuang begitu saja. Saya akhirnya meninggalkan baju-baju butut yang dibawa dari sini dan sepatu yang sudah ga keruan bentuknya. Tapi ternyata banyak juga jinjingan tas belanja yang masih harus saya bawa.. entahlah, saya isinya apa saja waktu itu..  sampai akhirnya salah satu tas berisi sepatu boot terbawa oleh teman Indonesia ke rumahnya, hehe.. ya sudahlah…

Malam menjelang pulang, perasaan jadi tak keruan. Sebagai orang cengeng, tak henti-henti saya mencucurkan airmata kesedihan karena harus berpisah dengan para sensei dan teman-teman. Tapi itulah kehidupan, ada saat bertemu lalu kemudian harus berpisah. Dan memang satu per satu diantar kembali ke bandara. Saya hanya berharap kami bisa saling bertemu satu sama lain suatu saat. Dan memang benar adanya, pada tahun 2005 saya bertemu dengan partisipan Thailand, Ms. Daisy di institusinya. Lalu tahun 2010 kemarin sayapun kembali bertemu dengan sahabat Malaysia, Sinia dan sensei kami Mr. Hiraki  dalam suatu meeting di Niigata. Adapun sahabat Filipina kami, Luis Ronquillo ternyata telah tiada sejak tahun 2005, tak jauh berselang dengan sensei kami Dr Tamaki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s