Kesan Osaka

Pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang, usia 27 tahun…  Cukup dewasa untuk bisa beradaptasi 🙂  Masalah utamanya adalah kekhawatiran akan ketidak cocokan selera lidah yang mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh alias tepar di negeri orang, wah berabe..  Terbayang bahwa saya akan sulit menemukan hal-hal menyenangkan khas Indonesia, tapi semua itu segera dilawan dengan pikiran positif.. kalau kolega saya bisa melewati, kenapa saya tidak? Saya sangat beruntung bisa pergi jauh, mempelajari ilmu baru ditambah bonus jalan-jalan secara gratis.. jadi harus semangat!

Perjalanan dari bandara menuju OSIC ditempuh dengan bis sekitar 40 menit lalu berhenti di sebuah tempat *kalau tak salah  sebuah hotel* untuk dilanjutkan dengan taksi, tak lupa dengan bantuan seorang wanita muda Jepang yang dengan gagah perkasa menggeret tas jinjing beroda saya yang 40 kg tadi… ups, sori lady…  Setibanya di lokasi, saya langsung menuju resepsionis untuk cek-in dan beristirahat di kamar, sampai jadwal yang ditentukan bahwa saya dan para peserta dari negara lain akan berkumpul esok pagi di sebuah ruangan untuk briefing. S aat itu kami belum diberi kupon untuk sarapan dan uang saku.. jadilah saya asik membuka bekal nasi kemarin, abon, dan tetek bengek lainnya untuk menahan lapar. Seharian saya habiskan waktu hanya di dalam kamar dengan kebingungan, don’t know what to do sambil terheran-heran sendiri.. mencoba berekplorasi dengan berbagai fasilitas kamar termasuk menjalankan toilet, hihi… *tetep ndeso* …I am in Japan now, thank God….

Keesokannya, para partisipan yang mengikuti kursus ini berkumpul di sebuah ruangan untuk perkenalan, pembuatan dokumen,  briefing dll. Ternyata ada 2 trainee dari Malaysia, yang nantinya kan menjadi sahabat setia saya *terutama yang wanita*. Kedekatan kami disebabkan terutama karena merasa serumpun dan masalah komunikasi..  tetep males nginggris, kebiasaan :p . Saya paling terkesan melihat partisipan Indochina yang terlihat sangat cool dan cute, ganteng pula.. halaaah… tapi he’s very quite,  hm.. itu yang bikin saya sebel dan penasaran kenapa dia kok sombong banget ga mau bergabung ngobrol dengan kita. Tapi nantinya kami akan jadi best friend, karena mau ga mau saya harus bekerjasama berdekatan dengan dia sepanjang kursus… waduuuh..

Dua minggu di OSIC dihabiskan untuk belajar nihon go dan adaptasi. Kami juga dibebaskan untuk mengikuti kegiatan center  yang tengah berlangsung ataupun ngelayap sendiri menyusuri kota jika punya nyali :). Biasanya untuk urusan puter-puter kami mencari teman sebangsa yang sudah lebih dulu tinggal disini, jadi  kami punya guide. Ada shuttle bus yang mengantar kami di tempat-tempat tertentu, sisanya silakan berjalan sendiri sesuai petunjuk peta. Meski dihiasi tulisan kanji keriting, rupanya tak terlalu sulit menemukan tempat yang dicari. Tentu saja, kami juga sudah diajari bagaimana caranya mengambil uang dari ATM.. hihihi, jadi kami sudah punya uang saku. Teman-teman satu grup kami lumayan kompak. Jika ingin berjalan-jalan, kami selalu menginformasikan satu sama lain. Pun dengan teman partisipan dari grup lainnya, rasanya menyenangkan punya banyak kawan baru dari negera yang berbeda. Kebetulan pada minggu saat kami disana ada trip gratis dari OSIC untuk para partisipan mengunjungi Kyoto dan Nara, tentunya hal itu merupakan  kesempatan tak boleh dilewati .. kapan lagi?

Tempat yang saya singgahi selama di Osaka, adalah Osaka Garden dan sekitarnya. Musim gugur sudah mulai tiba, jadi gradasi warna pepohonan terlihat sangat cantik. Foto di sebelah ini saya unduh dari istockphoto.com, sebenarnya ada juga koleksi pribadi tapi belum sempat saya scan.. maklum jaman baheula kan masih pake kamera film. Saya lupa nama lengkapnya apa, yang jelas lokasinya tak terlalu jauh dari center kami. Taman itu bersebelahan dengan lapangan olahraga, museum, dan sebuah lapangan luas.  Hal yang paling memalukan ketika pergi ke taman adalah ketika saya tak sanggup menggowes sepeda di jalan menanjak menuju pulang. Dengan pede saya tuntun sepeda itu sampai tersadar bahwa ada wanita cukup tua yang gagah perkasa memperhatikan saya sambil menahan tawa .. 😀  haha.. maklum cewek cemen ga pernah olahraga! Di Osaka Garden pula, kami mengunjungi flea market yang buka pada hari Minggu. Saya membeli tas baru, baju & mainan kayu anak, yukata masing2 seharga 200 yen (Rp 14000).. kalap judulnya. Selain itu kami  mendapat hadiah baju musim dingin seken dari seorang laki-laki penjual di sana..*mungkin beliau kasian melihat tampang kami*, wah rejeki…

O, ya.. ada kejadian konyol lagi yang terjadi menimpa baju stretch seksi hasil buruan di flea market. Berhubung wong ndeso yang suka malu bertanya dan takut mencoba, akhirnya terpaksa saya harus merelakan baju-baju  tadi akibat mengkerut karena kepanasan saat masuk mesin pengering 😦  .. hiiks

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s