Phnom Penh : yang sempat dikunjungi

Kami harus segera kembali ke Phnom Penh, sebelum hujan turun bertambah deras dan khawatir banjir menghadang. Bong bilang dia harus pulang ke kampung halamannya di Kampong Cham dan ke kampung halaman istrinya. Di Kamboja, hari Jum’at sore itu masing-masing keluarga bersiap mudik ke kampung halaman untuk merayakan Pchum Ben Day yang jatuh pada 26-28 September 2011. Sebuah hari keagamaan yang didedikasikan kepada para leluhur yang telah meninggal. Konon setiap tahunnya, pintu neraka dibuka dan para arwah yang berkarma buruk berkeliaran untuk sejenak rehat dari penderitaan dan mengunjungi keturunannya. Mereka yang masih hidup harus bersembahyang dan mengirim sesajen makanan kepada para pendeta Budha di pagoda untuk melancarkan proses transfer sesembahan.  Info lengkapnya bisa dilihat di sini dan di  sini.

Perjalanan dari Siem Reap ke Phnom Penh memakan waktu 5 jam juga. Kami melewati 5 propinsi diringi hujan deras beserta keinginan untuk bolak-balik ke toilet. Beser. Dengan alasan membeli gasoline per 10 L, kami menumpang ke toilet diiringi tatapan syahdu anjing-anjing penjaga yang bikin keder. Harga BBM disana jauh lebih mahal, bervariasi  mencapai 9-10 ribu rupiah per liter. Dalam perjalanan, kami melewati perkampungan komunitas muslim di Baray, dan juga menemukan masjid di daerah Skun. Muslim di Kamboja saat ini mencapai 5% dari total jumlah penduduk, kebanyakan berasal dari etnis Melayu Champa yang bisa berbahasa Khmer dan Melayu.

Ketika tiba di PNH pada pukul 7 malam, kami langsung didamparkan ke Angkor Bright guesthouse di dekat Central Market (Phsar Thmey) dan Sorya Mall yang berlantai 8. Entahlah, mungkin alasannya supaya kami gampang untuk berbelanja. Tarif per malam bervariasi antara 15-18 USD. Sebenarnya sih kami ingin tinggal di dekat Mekong River atau National Museum, tapi jalan ke arah sana cenderung macet. Ya sudahlah, kami tak ingin merepotkan tuan rumah yang sudah ditunggu keluarganya.

Ibukota Kamboja ini tidak terlalu luas, bisa dikelilingi dalam jangka waktu singkat. Pembangunan infrastruktur masih berlangsung dimana-mana. Seperti halnya di belahan dunia lain, Phnom Penh juga punya sisi menarik yang harus dikunjungi para wisatawan. Pagi harinya kami memutuskan untuk menyewa tuk tuk sebesar 15 USD untuk berkeliling ke beberapa tempat yang ingin kami datangi. Kali ini semuanya murni modal sendiri. Ga pake guide lokal dan ga ada yang bayarin lagi, hiiks…

Tujuan pertama adalah Killing Fields (Chheung Ek atau Choeung Ek) yang berlokasi 15 km ke luar kota. Harga tiket masuk ke lokasi ini sebesar 2 USD. Iya, kami ke Killing Fields untuk menyaksikan kemunduran sejarah Kamboja semasa berada di bawah kekuasaan Khmer Rouge di tahun 1976-1979.

    

 Chheung Ek merupakan sub distrik dari distrik Dangkor. Lebih dari 20 ribu orang dieksekusi dengan kejam disini, kebanyakan berasal dari tahanan S-21 di Tuol Sleng. Suasananya terasa merinding, meski saat ini mungkin sudah tidak separah dimasa lalu. Tengkorak-tengkorak yang ditemukan di lokasi ini dibersihkan, dipisahkan, dan diidentifikasi lalu dicuci dengan bahan kimia. Tengkorak yang sudah bersih disusun dalam lemari kaca yang berada di bangunan utama berdasarkan kriteria tertentu. Di sepanjang lokasi diberi tanda tempat kuburan massal tersebut ditemukan. Kami pun disuguhi film tentang sejarah Chheung Ek. Ah, saya jadi ingat bagaimana Bong bercerita bahwa orangtuanya juga menjadi korban Khmer Rouge dan dia bertahan hidup pada saat itu. Menyedihkan. Tak ingin rasanya berlama-lama di tempat ini.

Tak lebih dari 40 menit di Chheung Ek, kami segera meminta sopir tuk tuk untuk melajukan kendaraannya ke arah kota. Tujuannya museum Tuol Sleng. Horor lagi judulnya? Gapapa, mumpung masih pagi. Harga tiket masuk per orang juga sebesar 2 USD.

 

  

Tuol Sleng Genocide Museum awalnya merupakan sebuah bangunan sekolah Tuol Sleng Primary School dan Tuol Svay Prey High School yang dijadikan security office 21 democratic Kampuchea pimpinan Pol Pot (Salur Sor). S 21 didesain sebagai tempat penahanan, interogasi, penyiksaan tidak manusiawi, dan pembunuhan terhadap para tersangka. Waduh, meski cuma menumpang dengar dari para guide yang memandu tamu-tamu lain, saya tidak bisa dan tidak ingin membayangkan kekejaman yang terjadi di masa itu.  Mengerikan! Ayo, mari kita melarikan diri ke tempat lain saja!

menuju National Museum melewati Independence Monument (kantornya Bong ternyata dekat dari sini)

Tujuan ketiga adalah National Museum yang dibuka di sesi siang pada jam 2 – 5. Harga tiket masuknya 3 USD. Mengambil foto dan video tidak diijinkan, jika ingin mengambil gambar di dalam museum maka kita diharuskan membayar 1 USD lagi. Museum ini dibangun tahun 1917 dan diresmikan pada tahun 1920 oleh King Sisowath dengan struktur terakota bergaya Khmer tradisional.

  

Di dalam museum, terbagi beberapa area yang menampilkan berbagai peninggalan dari tiap abad dan dinasti yang hidup di masanya. Isinya penuh dengan relief patung, perhiasan kuno, koin, serta benda-benda lainnya. Seperti biasa, avonturir jadi-jadian ini malah cekikikan ga jelas karena bisa-bisanya nyasar masuk museum tanpa memahami isi di dalamnya. Di samping merasa miris dan malu hati karena tidak pernah lagi menginjakkan kaki di museum di tanah air semenjak lulus dari SMP. Tapi ya sudah, semoga ini menjadi cambuk bagi saya agar lebih bisa menghargai dan mencintai sejarah bangsa sendiri. Seperti biasa, belajar dari negeri tetangga.

Tak lama berada di museum, kami berjalan sedikit ke arah Royal Palace yang dibuka pada jam 2- 5 untuk sesi siang. Harga tiket masuk saat ini 6,25 USD. Pengunjung diharapkan berpakaian rapi dan sopan, serta tidak memakai sendal. Jika memakai celana pendek, mereka meminjami sarung untuk dililitkan.

Phnom Penh Royal Palace adalah simbol kerajaan yang megah, berfungsi sebagai tempat pengadilan resmi juga sebagai kediaman raja. Tidak semua sisi Royal Palace dapat diakses publik. Untungnya, masih banyak pemandangan bagus yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Dimulai dengan balai singgasana yang megah dihiasi menara setinggi 59 meter. Bangunan ini merupakan institusi pertama pada tahun 1866 ketika ibukota dipindahkan dari Oudong ke Phnom Penh, yang dilakukan selama pemerintahan King Norodom dan protektorat Perancis.

Komplek Royal Palace ini cukup luas, mencakup beberapa bangunan termasuk Silver Pagoda yang dijadikan sebagai tempat interaksi antara raja dan para bhiksu untuk upacara kerajaan dan keagamaan. Disebut silver pagoda karena lantainya terbuat dari perak dan kabarnya dahulu banyak perhiasan yang disimpan dibawah lantai. Di dalam sebuah bangunan yang setelah saya lihat di internet bahwa itulah Silver Pagoda, terdapat berbagai koleksi patung Budha. Ada yang terbuat dari emas sampai 96 kg dihiasi batu permata. Ada pula patung yang terbuat dari batu jade. Semuanya tidak boleh difoto.

  

Gambar di atas ini diambil dari google ( virtualtourist.com karya Tedsocoa dan NedHopkins) gara-gara saya salah kira tentang yang mana yang disebut Silver Pagoda *hwadeuuh.. saking banyaknya bangunan dan  ga tau namanya, jadi bingung sendiri* Yang banyak saya jepret yang seperti ini..

Ternyata bangunan-bangunan ini adalah ibaratnya hiasan penunjang yang menambah keindahan komplek utama Silver Pagoda.

Keluar dari komplek tadi, kami menuju beberapa bangunan di samping untuk melihat barang-barang yang dipamerkan. Koleksi patung gajah dalam berbagai bentuk, material, dan ukuran sangat mendominasi di berbagai tempat. Kemudian pakaian dan perlengkapan para penari untuk upacara dipamerkan di lantai dua. Peralatan tenun tradisional Kamboja juga ditempatkan di sebuah rumah panggung asli bangsa Khmer. Selain itu terdapat pula koleksi foto penobatan raja-raja Kamboja sampai Raja Norodom Sihamony. Satu jam lebih mengelilingi komplek Royal Palace dan Silver Pagoda cukup membuat kaki merasa lelah. Saya kira kami akan langsung diantar pulang ke Phsar Thmey, tidak taunya sopir tuk tuk membawa kami ke Russian market (Tuol Tom Poung) untuk mencari suvenir. Aaah, godaan!

Awalnya kami kaget, mengapa sang sopir membawa kami ke tempat seperti ini. Lagipun tidak terlihat turis yang sibuk berbelanja di dalamnya. Namun dengan gaya sok tahu, akhirnya kami nekat untuk melongok ke dalamnya dan tergoda oleh rayuan kain tenun silk bukan 100% khas Kamboja (harga antara 9 – 15 USD) beserta plate hiasan suvenir andalan saya seharga 3 USD. Barang yang ditawarkan umumnya hampir sama dengan Thailand. Aksesoris bermotif gajah, harganya pun tak berbeda jauh. Kecuali dompet kecil yang bermotif kain Kamboja seharga 1 USD dan kain tenun yang dijual 8 USD per meter, atau kain sutra asli yang dijual sekitar 40 USD. Nah, itu dia.. ga sanggup belinya euy! Mata uang yang dipakai di sini adalah USD, namun tak jarang mereka juga bertransaksi dengan memberi kembalian berupa uang Riel. Kali ini 1 USD setara dengan 4000 riel.

About these ads

39 thoughts on “Phnom Penh : yang sempat dikunjungi

  1. lagi dong ..masih ada terusannya khan cerita jalan2 ini , Hilsya ?
    asik banget deh bacanya , serasa diajak jalan2 juga …. hehehe… :)
    wah, kebayang deh, serem suasananya ke tempat museum khmer merah tadi itu ……..
    sadis banget ya Hilsya pd zaman itu :(
    trus ? trus ? gimana?
    ( sambil melongo mau dengerin lanjutannya) :P
    salam

  2. Lho…
    apa ini? apa ini??

    Mba Hilsya lagi jalan-jalan nih maksudnyah?
    *gejala komen nya orang sirik*

    Jalan-jalannya seru sih mba…tapi kok rada horor juga yah mba…

    Tapi kalo aku mah mungkin lebih milih jalan2 ke Cheju island aja deh mbaaa…
    syukur2 bisa papasan sama Lee Min Ho…hihihi…

  3. hiiiiiiii ngeri lihat itu tengkorak..beneran mak itu tengkorak manusia?? sadis amat yakkk…astagirullah..sampean nggak merinding tho?? kayak cerita masuk musium kartini itu….hehehe atau dah mentel…nice story mbak..ternyata kamboja banyak sisi yang indah juga yah…baru ngeh setelah membaca tulisan sampean *kemana saja yah saya ..heheh..ayo dilanjut mbak..:)

  4. aku pernah liat bangunan Museum yg dulunya dijadikan tempat penahanan zaman Pol Pot itu di tv One..hostnya aja merinding, karena suasananya menegangkan utk zaman itu..ada tiang buat gantung orang juga kan Mbak?? ga kebayang kalo aku jadi tawanan mereka..ih…

  5. Senang bisa jalan2 ditempat yang indah ,menarik dan tentu tak ketinggalan aneka kulinernya.
    Saya pernah singgah di airport kalau gak salah waktu mau ke Laos.
    terima kasih reportasenya yang menarik dan bermanfaat.

    Salam hangat dari Surabaya

    • airportnya meski kecil sekarang udh jauh lebih bagus, Pakde

      meski punya kolega, tapi sampai sekarang saya belum punya panggilan jiwa untuk ke Laos :) .. belum konek aja

  6. Bangunan-bangunan di Royale Palacenya mirip-mirip sama Thailand yah, aaahh.. aku jadi teringat postingan tentang Thailand, belum kuselesaikan. Hihiihihi…
    Mbaaaakkk aku pengeeenn liyat patung budha yang terbuat dari emas 96 kilo, dihiasi batu permata…. huaaa.. gak bisa dipoto yaaa….

    • iya, mereka sengaja memajang semua sisa kekejaman jaman dulu untuk dijadikan bahan renungan dan pelajaran agar rezim yang sama tidak tumbuh di kemudian hari di bumi manapun

  7. Haduh mbak, kok tujuan wisatanya ke tempat2 horror ya.. Kamboja ternyata punya sejarah yg suram jg…

    Untung abis itu ke Royal Palace ya.. Cantik bgt..
    Mbak request aja, sesekali narsis gapapa dong.. Mau liat senyum sejuta dolarnya di Kamboja.. Hahaha… :-D

    • karena itulah a must visit-nya.. cerita biar lebih nambah pengetahuan

      haha Tia, disana hatiku kelabu dan capek badannya.. jadi ga ada mood buat centil jeprat-jepret :)

  8. Hadooh, Mbak… kalo ke Kamboja itu, mesti pake acara datengin tempat2 pembantaian kek gitu ya?? *syereem*
    Bangunannya cantik2 ya, Mbak. Tapi kok pasarnya pake dolar ya?

  9. Belanjaaaaa…itu memang selalu jadi godaan kaum wanita… :D
    Pengalamannya seru, saya ngebayangin gimana hebohnya kita berpikir *dan berburu* oleh-oleh buat orang-orang yang ditinggalin di Tanah Air, mulai dompet, kain sutera dan aneka pernak-pernik yang nggak ada di Indonesia.

    *ke Garut juga boleh dikirimin kok Hilsya, dengan senang hati akan diterima*

  10. jadi kalau diperhatikan kamboja termasuk negara yang berkembang ya bak tapi ada sisi menariknya yaitu komunitas muslim campa ternyata penduduk kamboja juga menggunakan dua bahasa dan mereka hidup dengan damai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s