Sesampainya di Malang, kami memutuskan untuk tidak melungker di bawah selimut. Harus eksplorasi. Oh, iya kami menginap di hotel penuh sejarah di kawasan alun-alun yaitu hotel Pelangi (dulu semasa perang dikenal sebagai hotel Palace). Sebuah hotel yang masih kental dengan arsitektur Belanda dan berada di kawasan strategis. Kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan tak tentu arah mengitari alun-alun baik berjalan kaki maupun naik angkot (len). Kesimpulannya ternyata tempat kami sangat dekat dengan mal-mal, gereja, mesjid, toko buku, restoran, kantor pemerintahan, pasar, dan sekolah.
Pagi hari setelah sarapan, kami berdiskusi akan kemana tujuan hari ini. Pilihannya pantai Sendang biru lanjut Sempu atau ke Balekambang saja. Bernego sana-sini kami diberi pilihan jika menyewa kendaraan sehari Rp 250 ribu belum ditambah BBM, atau menyewa angkot yang kebetulan lewat Rp 150 ribu satu kali jalan, atau nyicil naik angkot sampai Bantur lalu ngojek sampai pantai. Wah.. opsi terakhir langsung ditolak mentah-mentah oleh semua anggota tim. Takut masuk angin katanya.
Ya sudah.. daripada lama berdebat di pinggir jalan, akhirnya kami naik angkot GL yang kebetulan lewat depan hotel untuk menuju ke terminal Gadang. Sisanya lihat nanti. Namun di tengah perjalanan sang supir menanyakan kami hendak kemana dan langsung ditawari carter angkot Rp 275 ribu sampai Balekambang PP. Kabarnya sih jika hari libur, harga carterannya Rp 350 ribu. Ya lumayan deh. Dan ternyata kami punya tambahan penumpang di depan, yaitu istri sang supir yang turut dibawa serta. Tadinya sempat bingung, kenapa istrinya ngikut ya? Kok dia terlihat ga terlihat sewelcome sang suami sih? Tiba-tiba saja dia request untuk tidak pulang sore-sore. Halaah.. ngapain juga ikut kalo ga mau lama-lama. Apa khawatir dengan penumpang yang manis-manis ini? Hihi.. setelah sempat rada berburuk sangka, ternyata si papinya yang pengen ditemenin. Pun sepanjang perjalanan ngobrol ngalor ngidul, ternyata sang istri adalah guru STM dan sedang kuliah lagi. Hehe.. cerita ga penting yah?
Yup, perjalanan dimulai. Dari terminal Gadang – Krebet (tempat pabrik gula) – Gondanglegi – Bantur – Balekambang. Total perjalanan 2 jam ngebut dari hotel jam 9 sampai pantai jam 11. Angkot hanya ada sampai Bantur. Setelah itu kami melihat tukang ojek berhamburan mengejar penumpang angkot kuning yang akan pergi ke pantai atau melanjutkan perjalanan. Dari terminal Gadang sampai Bantur sendiri lumayan jauh, saya kurang tahu harganya berapa tapi menurut pak sopir sekitar 15 – 20 ribu. Nah sisanya, naik ojek sampai pantai berkisar 40 – 50 ribu PP tergantung nego. Perjalanan dari Bantur ke Balekambangnya itu lho, hmm.. ga kebayang kalo pake ojek. Jalan beraspal, hanya saja kebetulan banyak yang rusak dan berlubang. Belum lagi aura di sepanjang jalan. Sepi. Hanya ditemani hutan jati ataupun tanaman tebu. Sinyal telepon berbagai provider jangan harap ada. Benar-benar terisolasi. Masuk ke dalam pantai ada biaya restribusi. Tiket masuk 35 ribu untuk 6 orang dan mobil. Di pintu masuk ada tanda untuk arah kanan bisa langsung ke pantai Kondang merak, namun jalannya masih berbatu.
Dan, voila.. inilah pantai Balekambang!
Seperti umumnya pantai laut selatan, ombak di Balekambang cukup besar. Ada berbagai papan peringatan dilarang berenang. Walaupun bukan Sabtu Minggu, namun karena saat kami ke sana sudah waktunya liburan sekolah. Lumayan banyak juga pengunjungnya. Yang khas dari Balekambang adalah adanya pura di pulau seberang pantai. Namanya pura Ismoyo. Pagar jembatan menuju pura dicat biru. Di bagian awal jembatan ada bagian beton yang roboh, tapi masih bisa dilewati untuk menyeberang.
Di kawasan pantai juga tersedia berbagai macam fasilitas. Mushola, toilet, tempat beristirahat, gerobak jajanan, selain warung makanan dan toko suvenir. Hanya saja tidak disediakan tempat sampah yang memadai, sehingga masih banyak pengunjung yang seenaknya membuang sampah sembarangan. Harga makanan di warung relatif cukup murah, rata-rata hanya 5000 rupiah per porsi.
Karena ingin melihat pantai Kondang merak, maka sesi pemotretan di Balekambang *halaah.. berasa model terkenal* selesai jam 12 siang. Itupun juga karena ga enak sama istri sang supir yang minta pulang tidak terlalu sore. Tapi begitu berkumpul di meeting point (baca: depan angkot biru) ternyata yang bersangkutan tidak ditemukan. Saya dan seorang teman sampai balik lagi mendekati pura untuk mencari mereka. Duh.. mana panas, capek, makanan terkunci di angkot pula. Akhirnya, kami memutuskan makan nasi pecel di warung paling dekat. Harganya 3ooo seporsi, saudara-saudara. Karena ga selera dan takut ga habis, saya minta sepiring berdua saja. *romantis kan?* Dan ternyata begitu dicicipi, pedasnya aje gile. Pas dicek di dalam pecel, irisan cabe rawit kuning berukuran agak besar teridentifikasi dijeburkan langsung dalam ramuan sayuran dan bumbu pecel. Pantesan pedasnya sampai kuping. Akhirnya kami memesan mie goreng saja. Itupun ga habis dimakan berdua karena mie-nya terlalu lembek, dan sang sopir sudah berada di lokasi. Sementara kalo saya sih sudah ga enak hati buat makan. Ga mood. Dan makanan minuman es kelapa yang dimakan untuk maksi berempat kali ini hanya 18 ribu saja. *prok..prok*
Begitu bertemu sang sopir, kami sempat kecewa karena ia tidak sesuai janji. Tadinya saya pikir mereka ingin berduaan saja, karena dicari kesana kemari tidak ketemu. Apalagi awalnya sang istri juga melarang si bapak untuk ikut serta dengan kami. Ternyata beliau kehilangan dompet berisi surat-surat penting untuk trayek angkotnya saat di toilet. Jadi sibuklah ia mencari. Untunglah dompet itu ditemukan dan disimpan seseorang. Kalo ngga ketemu, kasihan juga. Kabarnya cukup banyak biaya yang harus digelontorkan untuk mengurus ijin trayek angkot. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja, tidak jadi pergi ke pantai Kondang merak. Lain kali mungkin. Lagian rasanya capek banget. Bahkan dalam perjalanan pulang, teman saya sampai berpose menjungkir karena ketiduran di angkot.. zzz.






suretno
/ Juni 29, 2011Weh Balekambang … Jadi ingat kalau pernah ke sana dengan jalan kaki dari Arjosari. Sampe theklek …
hilsya
/ Juni 29, 2011weits.. yang bener? itu kan jauuuuh banget!
bluethunderheart
/ Juni 29, 2011kapan kapan blue mau kesana
salam hangat dari blue
hilsya
/ Juni 29, 2011silakan
monda
/ Juni 29, 2011teman sudah ngajakin menjelajah jatim Park, Wonosari sampai Bromo, sayangnya karena masih perlu mengurus masuk sekolah, kayaknya liburan kali ini nggak kemana2 deh,
ckuplah diwakili pandangan mata dari mama Hilsya aj, thanks mbak
hilsya
/ Juni 30, 2011iya, ini mah kebetulan aja mba.. ada kerjaan sekalian jalan..
Gaphe
/ Juni 29, 2011wuh, kayaknya kalo yang jauh datang ke malang ceritanya malah bisa kemana2 yak??. saya aja yang cuman 2 jam dari malang, blom pernah ke BNS, pantai balekambang, apalagi sempu..
bagus juga pantainya, itu pura ditengah laut mengingatkan akan tanah lot di bali.
yee si istri supir juga aneh2 aja, masa yaa udah dicarter koq malah dia yang nentuin jadwalnya
hilsya
/ Juni 30, 2011lah.. sama aja kayak kamu datang ke MoI hihi…
begitulah.. ternyata banyak sekali cerita yg berseliweran di balik perjalanan kita
Majalah Masjid Kita
/ Juni 30, 2011sabar mas sabar
hilsya
/ Juni 30, 2011??
niee
/ Juni 30, 2011Seluruh pantai selatan gak boleh berenang ya mbak? Baru tahu aku..
hilsya
/ Juni 30, 2011ombaknya gede.. tapi banyak sih yg main air di pinggir pantai
'Ne
/ Juni 30, 2011waaahh mbak jadi pengen ke sana, udah sering denger tentang Balekambang soalnya.. itu di foto indah-indah bener..
*saya sukaaaa banget sama pantai dan laut mbak hehe
hilsya
/ Juni 30, 2011masih ada foto pantai yang lebih indah Ne.. tapi postingnya itu lho ..heuheu..
lidya
/ Juni 30, 2011sudah kembalikah ke jakarta bun?
untung diMalang ga melungker dibawah selimutya kalau gak……
hilsya
/ Juni 30, 2011udah…ga bisa bikin postingan selancar ini kalo ga di rumah..hihi
@nonaedda
/ Juni 30, 2011waaah bagusnyaaa
jd pengeeeen ksanaaa
lam kenal yaa
hilsya
/ Juni 30, 2011hayuu… mumpung masih rada bersih.. kalo udah penuh orang jd kotor deh
Rahad
/ Juni 30, 2011kok mirip tanah lot yang di bali ya? ombaknya juga sama gedenya dgn yg di tanah lot, cuma beda warna pasirnya aja
hilsya
/ Juni 30, 2011kalo di tanah lot .. lupa, gampang ga ya akses ke puranya?
Mabruri Sirampog
/ Juni 30, 2011jadi pengen nyeburr bu… melepaskan penat yang ada…
hilsya
/ Juni 30, 2011jangan Mab.. ombaknya gede
mama-nya Kinan
/ Juni 30, 2011Yang pantainya -di malang..saya belom pernah sama sekali…nggak tahu kenapa dulu nggakpernah jadi kesana karena perjalanannya yang jauh….hmmmm lengkap banget detail tulisan bunda hilya..terus photo-photonya..fotographer profesional kalah dah pokoknya..mantep baca tulisannya bisa membayangkan berasa ikutan dalam rombongan
hilsya
/ Juni 30, 2011kalo dalam rombongan ikut saweran ye mam..hihi
BunDit
/ Juni 30, 2011Woww…pantainya asri banget mam, sayang ya kalau tempat sampah gak memadai. Jadi curious, mam ke sana dines atau jalan-jalan siiiih hehehe
hilsya
/ Juni 30, 2011huahaha…. jadi ga enak ati.. kalo yg diposting mah cukup yg jalan-jalan aja yaaa…
kalo kerjaan mah ribet..tar disangka curhat di blog..
Orin
/ Juni 30, 2011Kabitaaaa…. next trip Malang boljug kyknya nih *ngintip budget liburan*
hilsya
/ Juni 30, 2011iya..lumayan bagus lah.. lebih deket dibanding Bali
rina
/ Juni 30, 2011i
iih jadi pengen kesana… bagus banget pemandangannya…
salam kenal mba…
hilsya
/ Juni 30, 2011sok atuh… sama-sama
advertiyha
/ Juni 30, 2011wuihhh keren..
ntar kalo littleO dah gedhe deh, baru kesono.. *kelamaan mbakkkk* hehehe
hilsya
/ Juni 30, 2011selamat menikmati pengalaman jadi ibu dulu ya iyha…
Kakaakin
/ Juli 1, 2011Subhanallah…
Pantai yang indah…
huhuhu… jadi pengen renang…
hilsya
/ Juli 2, 2011ga boleh berenang.. ombaknya gede banget
ana
/ November 17, 2011Mbak boleh tanya ga.. di balekambang ada penginepan atao hotel gitu ga ya….?
mama hilsya
/ November 17, 2011di balekambang..di pantainya ada penginepan cuma kurang tau yg ngelola siapa..
klo sepanjang perjalanan menuju pantainya sih ngga ada..
learningfromlives
/ Januari 3, 2012Kalo gak jauh dari pantai mungkin boleh berenang, hehehe
http://learningfromlives.wordpress.com/2012/01/01/back-packer-balekambang-edition/